PERSEPSI

 


Malam itu hujan turun pelan membasahi jalanan kota.

Di sebuah gang sempit dekat kawasan pertokoan, seorang pemuda terbaring di pinggir jalan dengan wajah penuh lebam. Jaketnya robek dan darah mengalir dari pelipisnya.

Namanya Erigo.

Pemuda perantau dari sebuah desa kecil yang datang ke kota untuk mengubah nasibnya.

Namun kota tidak selalu ramah.

Malam itu ia baru saja menjadi korban pengeroyokan beberapa preman setelah berusaha melindungi seorang pedagang tua yang dipalak.

Orang-orang hanya melihat.

Tak ada yang berani menolong.

Sampai sebuah suara terdengar.

"Mas... masih sadar?"

Erigo membuka mata perlahan.

Di hadapannya berdiri seorang wanita muda dengan payung hitam.

Wanita itu berjongkok tanpa peduli hujan yang membasahi sepatunya.

Namanya Mira.

Tanpa banyak bertanya, Mira membantu Erigo berdiri dan membawanya ke klinik terdekat.

Sejak malam itulah kisah mereka dimulai.

Hari-hari berikutnya membuat Erigo semakin mengenal kota itu.

Kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

Di sana berdiri kampus-kampus besar, galeri seni, perpustakaan, dan bangunan-bangunan tua yang menjadi kebanggaan masyarakatnya. Setiap tahun ribuan orang datang untuk belajar, mencari pengalaman, dan membangun masa depan.

Saat pertama kali datang, Erigo mengira kota itu dipenuhi orang-orang yang bijaksana.

Namun ia segera menyadari bahwa pendidikan tinggi tidak selalu membuat manusia bebas dari prasangka.

Di warung kopi, di teras kos, di media sosial, bahkan di lingkungan yang dipenuhi orang-orang terpelajar, gosip tetap hidup.

Dan nama Mira sering kali menjadi bagian dari gosip itu.

Sebagian orang mengenalnya sebagai perempuan baik.

Sebagian lainnya mengenalnya sebagai perempuan yang sering terlihat dalam kehidupan malam.

Ironisnya, kebanyakan dari mereka tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Mereka hanya mengenal cerita tentang dirinya.

Mira bukan perempuan yang mudah dipahami.

Ia memiliki tato kupu-kupu kecil di pergelangan tangan kirinya.

Ia sering terlihat menghadiri acara malam.

Penampilannya modern dan jauh dari gambaran perempuan religius yang dibayangkan banyak orang.

Karena itulah banyak yang memandangnya sebelah mata.

Namun Erigo melihat sesuatu yang berbeda.

Wanita yang menolongnya malam itu adalah wanita yang tulus.

Wanita yang diam-diam menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu anak-anak yatim.

Wanita yang tidak pernah meninggalkan ibadah wajibnya.

Wanita yang sering menangis diam-diam dalam doanya.

Dan perlahan Erigo mulai mengenalnya.

Di sisi lain, Erigo juga menyimpan luka.

Ayahnya meninggalkan keluarga ketika ia masih kecil.

Sejak saat itu ia tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak ada yang benar-benar akan tinggal bersamanya.

Ia terbiasa ditinggalkan.

Terbiasa kecewa.

Terbiasa memendam semuanya sendiri.

Karena itu, ketika Mira hadir dalam hidupnya, ada sesuatu yang berubah.

Untuk pertama kalinya ia merasa memiliki tempat untuk pulang.

Hubungan mereka semakin dekat.

Mereka sering berbincang hingga larut malam.

Tentang masa lalu.

Tentang mimpi.

Tentang Tuhan.

Tentang luka yang belum sembuh.

Anehnya, semakin mereka saling mengenal, semakin mereka merasa ingin menjadi pribadi yang lebih baik.

Mira mulai lebih serius mendalami agama.

Erigo mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini menemaninya.

Mereka bukan pasangan yang sempurna.

Tetapi mereka berjalan ke arah yang sama.

Menuju jalan yang lebih lurus.

Namun perubahan Mira ternyata tidak disukai oleh semua orang.

Semakin ia berusaha menjadi lebih baik, semakin banyak orang yang merasa terganggu.

Sebagian menganggap Mira sedang mencari perhatian.

Sebagian lagi merasa dirinya lebih baik daripada Mira.

Lalu muncullah sebuah fitnah.

Awalnya hanya sebuah unggahan anonim di media sosial.

Seseorang mengunggah foto lama Mira saat menghadiri sebuah acara malam bertahun-tahun sebelumnya.

Foto itu dipotong sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan yang berbeda dari kenyataan.

Dalam hitungan hari, unggahan itu menyebar ke mana-mana.

Orang-orang mulai menambahkan cerita mereka sendiri.

Cerita yang tidak pernah terjadi.

Tuduhan yang tidak pernah dilakukan Mira.

Semakin banyak yang berbicara, semakin sedikit yang mencari kebenaran.

Mira yang selama ini diam akhirnya menjadi sasaran.

Ia dijauhi sebagian teman.

Undangan kegiatan mulai berkurang.

Orang-orang yang sebelumnya memuji perubahannya mulai mempertanyakan ketulusannya.

Yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang berkata,

"Kalau memang tidak benar, kenapa banyak orang yang mengatakan hal yang sama?"

Mira hanya tersenyum.

Bukan karena kuat.

Melainkan karena lelah.

Sayangnya, badai itu juga mulai memengaruhi Erigo.

Luka batin yang selama ini ia pendam perlahan berubah menjadi ketakutan.

Ketakutan berubah menjadi kecurigaan.

Dan kecurigaan berubah menjadi prasangka.

Suatu malam, setelah sebuah pertengkaran kecil, Erigo mengucapkan kalimat yang tidak pernah bisa ia tarik kembali.

"Jujur saja, Mira... aku kadang bingung. Kenapa kamu dulu hidup seperti itu kalau memang prinsipmu sekuat yang kamu bilang?"

Mira terdiam.

Kalimat itu terasa seperti pisau.

Bukan karena kasar.

Tetapi karena menunjukkan apa yang sebenarnya ada di hati Erigo.

Ia ternyata masih memandang Mira melalui masa lalunya.

Masih memandangnya melalui persepsi orang lain.

Air mata jatuh dari mata Mira.

"Jadi selama ini kamu juga percaya?"

Erigo tidak menjawab.

Dan diamnya menjadi jawaban.

Mira tersenyum pahit.

"Semua orang di kota ini melihat tato ini."

Ia menunjuk pergelangan tangan kirinya.

"Lalu mereka merasa tahu seluruh hidupku."

Mira menatap Erigo.

"Tapi aku tidak pernah menyangka kamu akan melakukan hal yang sama."

Malam itu mereka berpisah.

Bukan karena tidak ada cinta.

Justru karena cinta itu pernah ada.

Dan itulah yang membuat luka terasa lebih dalam.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sunyi.

Fitnah terus beredar.

Gosip terus tumbuh.

Dan Mira semakin lelah menghadapi semuanya.

Suatu malam ia duduk sendirian di kamarnya.

Menatap koper yang tersimpan di sudut ruangan.

Untuk pertama kalinya ia tidak menangis.

Tidak marah.

Tidak pula kecewa.

Ada ketenangan yang aneh di dalam hatinya.

Seolah-olah ia akhirnya menerima bahwa tidak semua pertempuran harus dimenangkan.

Beberapa bulan kemudian, tanpa banyak kata, Mira meninggalkan kota itu.

Bukan karena ia kalah.

Bukan karena fitnah itu benar.

Melainkan karena ia ingin menyelamatkan kedamaian yang tersisa di dalam dirinya.

Di tempat yang baru, tidak ada yang mengenalnya.

Tidak ada yang tahu tentang tato kupu-kupu di pergelangan tangannya.

Tidak ada yang tahu tentang fitnah yang pernah menghancurkan namanya.

Tidak ada yang tahu tentang luka yang pernah ia simpan.

Yang mereka kenal hanyalah Mira.

Seorang wanita yang baik.

Seorang wanita yang tenang.

Seorang wanita yang berusaha mendekat kepada Tuhan.

Bertahun-tahun kemudian, Erigo tanpa sengaja melihat sebuah artikel di internet.

Artikel itu menceritakan tentang seorang wanita yang aktif membantu pendidikan anak-anak kurang mampu dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di bawah artikel itu terpampang sebuah foto.

Erigo langsung mengenalinya.

Mira.

Wanita yang dulu pernah menyelamatkannya dari hujan.

Wanita yang dulu ia cintai.

Wanita yang gagal ia pahami.

Saat itulah Erigo menyadari sesuatu.

Mira tidak pernah kalah oleh fitnah.

Mira tidak pernah kalah oleh masa lalunya.

Yang kalah adalah orang-orang yang terlalu sibuk menilai hingga gagal mengenal siapa dirinya sebenarnya.

Termasuk dirinya sendiri.

Karena sering kali yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah kebencian.

Melainkan persepsi yang salah tentang orang yang kita cintai.