Dakocan dan Sarinah, Lambang Dua Gagasan yang Saling Bertolak Belakang

 Kulihat ada boneka baru

Dari karet amat lucu

Dakocan namanya bukan Sarinah

Sayang-sayang mahal harganya

Dakocan namanya bukan Sarinah

Sayang-sayang mahal harganya


Bait di atas adalah sebuah lagu anak berjudul Dakocan ciptaan Pak Kasur. Mungkin anak-anak kecil zaman sekarang tidak pernah mendengar lagu tersebut, tetapi saat kecil, Dakocan merupakan salah satu lagu yang sempat saya dengar dan akhirnya  menempel di kepala.

Belakangan, saya baru tahu bahwa Dakocan dan Sarinah bukan sekadar lirik lagu anak. Bukan sekadar perbandingan. Ada fakta sejarah yang terkandung di dalamnya. Dakocan dan Sarinah adalah lambang dua gagasan yang bertolak belakang.

Dakocan adalah nama sejenis boneka plastik berwarna hitam. Boneka tersebut dibuat di Yokohama, Jepang, oleh sebuah perusahaan bernama Tanaka Vynil dan mulai dipasarkan ke seluruh dunia pada 1960.

Lalu, apa hubungan Dakocan dengan Sarinah?

Yuk, simak artikel ini biar gak penasaran!

Dakocan Bentuk Imperialisme Modern

Siapa sangka bahwa di balik bentuknya yang lucu, Dakocan merupakan bentuk persaingan dan imperialisme modern? Boneka yang bisa digantungkan di lengan tersebut tercipta karena Jepang ingin menyaingi Amerika Serikat yang lebih dulu meluncurkan boneka Teddy Bear yang memiliki banyak penggemar di seluruh dunia.

Keadaan negara yang kalah perang juga mendukung niat Jepang untuk menerapkan imperialisme di seluruh dunia. Melalui boneka Dakocan, Jepang berharap mendapat keuntungan besar. Dengan keuntungan tersebut, Jepang akan dapat memulihkan negara yang hancur lebur akibat perang sekaligus mengalahkan pamor Amerika Serikat sebagai negara pemenang perang.

Dengan kekuatan media, Jepang berhasil menjadikan Dakocan sebagai tren mode. Dakocan populer di seluruh dunia pada dekade 1960- an. Bentuknya yang lain daripada yang lain adalah salah satu alasan populernya Dakocan.

Boneka tersebut berbentuk seperti koala yang sedang memeluk pohon. Kata peluk dalam bahasa Jepang disebut dakko, sedangkan chan adalah panggilan untuk anak perempuan di Jepang. Nama Dakocan lebih melekat di telinga ketimbang nama aslinya, yaitu Kinobori Winky.

Pada tahun 1980 –an, kepopuleran Dakocan surut. Banyaknya kritikan mengenai desain Dakocan yang dianggap menyinggung pihak-pihak tertentu menjadi penyebab utamanya.

Bertahun-tahun setelahnya, tepatnya pada 2001, Jepang menghidupkan lembali Dakocan. Warnanya tidak melulu hitam. Ada juga biru dan merah jambu. Rok rajutan dan bibir tebalnya menghilang, berganti menjadi ekor di bagian belakang.

Lalu bagaimana dengan Sarinah? Mengapa bertolak belakang dengan Dakocan? Simak uraian berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut.

Sarinah dan Bung Karno

Menurut sejarah, Sarinah adalah nama wanita yang mengasuh Bung Karno sejak kecil. Dalam otobiografinya yang berjudul Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, Bung Karno menyebutkan bahwa Sarinah adalah salah satu anggota keluarrganya, bagian dari rumah tangganya. Ia tinggal di rumah keluarga Bung Karno dan mengasuhnya tanpa bayaran sepeserpun.

Lain lagi menurut Lambert Giebels. Mengutip historia.id, ia menulis buku tentang Soekarno yang berjudul Soekarno, Biografi 1901-1950. Di dalamnya, ia menceritakan  adanya versi-versi lain tentang siapa sebenarnya Sarinah. Menurut salah satu versi, Sarinah adalah ibu kandung Bung Karno.

Lebih lanjut, versi tersebut menyebutkan bahwa Bung Karno merupakan hasil hubungan Sarinah dengan karyawan perkebunan berkebangasaan Belanda. Versi lain menyebutkan lelaki berkebangsaan Belanda tersebut adalah pejabat tinggi yang berdarah Indo.

Selanjutnya, setelah Sarinah melahirkan, sepasang suami istri yang kemudian dikenal sebagai orangtua Bung Karno mengadopsi anaknya serta mengangkat Sarinah sebagai pengasuh. Itu berarti ia mengasuh anaknya sendiri.

Bung Karno merasa geli saat mengetahui cerita simpang siur tersebut. Sarinah adalah wanita yang belum pernah menikah sehingga tidak mungkin ia memiliki anak. Sementara itu, kabar bahwa ia adalah keturunan Indo hanya khayalan publik semata.

Ia berpendapat bahwa anggapan itu muncul karena orang Indo tidak percaya bahwa presiden Indoneia yang terlihat penuh semangat adalah seorang pribumi totok.

Sarinah adalah alasan Bung Karno sangat mencintai rakyat kecil. Wanita itulah yang senantiasa menanamkan rasa cinta kasih kepada Soekarno kecil hingga ia menjadi besar, terutama di mata orang-orang kecil.

Department Store yang Ramah di Kantong

Salah satu mimpi terbesar Bung Karno adalah melihat rakyatnya sejahtera seperti negara-negara lain.  Ia ingin bangsanya mandiri dan merdeka dari penjajahan. Untuk itu, Bung Karno ingin membangkitkan ekonomi Indonesia lewat pembangunan sebuah department store pada 1963.

Department store tersebut ia beri nama Sarinah sebagai bentuk terima kasih pada pengasuh yang punya andil besar dalam kehidupannya. Bung Karno menekankan bahwa Sarinah sangat penting untuk membangun ekonomi sosialis. Dengan adanya Sarinah,  harapan tentang ekonomi yang stabil akan terwujud.

Sarinah akan berfungsi sebagai penekan harga jual. Jika produsen menjual produknya di Sarinah dengan harga tertentu, tidak akan ada penjual lain yang berani menaikkan harga jualnya.

Bung Karno menetapkan produk-produk yang dijual di Sarinah.  Barang lokal mejadi primadona, sedangkan barang impor hanya mendapat sedikit slot di sana. Itu adalah cara beliau agar harga jual tidak terlalu tinggi, tetapi produsen lokal tetap untung sehingga Sarinah  akan menjadi department store yang ramah di kantong semua kalangan.

Cita-cita yang Tak Tercapai

Sayangnya, harapan tersebut layu sebelum berkembang. Kondisi sosial, politik dan ekonomi negara yang tidak menentu membuat Sarinah cepat kehilangan pamornya. Sarinah yang merupakan department store pertama di Asia Tenggara harus tunduk pada kapitalisme yang perlahan menggerogoti prinsip ekonomi  sosialis terapan Bung Karno.

Selama seminggu sejak dibukanya Sarinah, ribuan orang yang penasaran datang mengunjunginya. Omzet Sarinah selama seminggu itu mencapai 600 juta rupiah per hari.

Namun, omzet tersebut langsung anjlok beberapa bulan setelahnya. Per harinya, Sarinah hanya menghasilkan omzet sebesar 1,5 juta rupiah. Akibatnya, seperempat jumlah karyawan harus terkena PHK pada Februari 1967.

Bukannya membaik, keuangan Sarinah malah makin terbebani oleh hutang yang menumpuk. Keaadaan  tersebut terus berlangsung sampai awal tahun 1970. Pada tahun yang sama, Bung Karno meninggal dunia.

Berbagai masalah yang menimpa Sarinah mencapai puncaknya pada 1980. Saat itu gedung department store Sarinah terbakar hebat. Pemadam kebakaran terlambat datang karena terjebak kemacetan.

Pada 1991, keberadaan restoran Mc Donald’s  di lantai dasar menandai bangkitnya Sarinah dari keterpurukan. Hard Rock CafĂ© kemudian menyusul pada 1997. Barang-barang impor pun mulai mengisi setiap toko di dalamnya.

Sarinah yang semula merupakan bentuk usaha swasembada ekonomi lokal jadi takluk pada gempuran produk mancanegara. Angan Bung Karno untuk menciptakan pusat belanja modern dengan harga yang merakyat pun kandas.

Dakocan dan Sarinah adalah gambaran ketergantungan dan kemandirian, dua gagasan yang saling bertolak belakang. Walaupun pada akhirnya termakan zaman, keduanya adalah bukti bangkitnya sebuah bangsa dari keterpurukan dan ketertindasan akibat perang dan penjajahan.