Kita Semua Kafir dan Tersesat #paradigmamakna
Bahasa merupakan alat ekspresi yang sanggat penting untuk menyampaikan segala sesuatu baik kepada Tuhan maupun terhadap mahluk lainnya. Maka dari itu, manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk yang beragama dan bertuhan tidak mungkin melepaskan diri dari bahasa. Akan tetapi, bahasa sebagai alat komunikasi seakan disepelekan dan seakan sebuah alat atau barang tinggal pakai. Dalam bahasa ada banyak sekali elemen atau hal yang perlu perhatikan dan dianalisis terutama bahasa kedua. Salah satu elemennya ialah makna bahasa. Bahasa disefinisiskan sebagai lambang bunyi yang mengandung makan. Misalnya pada kata “tahu” [ta-hu] dan “tahu” [tau] dalam bahasa Indonesia.
Bahasa pertama
dan bahasa kedua dalam penggunaannya sangatlah berbeda dimana makna bahasa
pertama sudah tertanam dalam setiap individu melalui pengalamannya selama
mengunakan bahasa pertamanya tersebut meskipun ia tidak bisa menjelaskan secara
teoritis akan makna, pelafalan, hakikat, dan hal lainnya dalam setiap bunyi,
kata, frasa, dan kalimat yang ada. Hal tersebut terbalik dengan bahasa kedua
karena perlu ada upaya yang lebih untuk
menggunakan dan memahaminya.
Ada banyak
sekali disiplin ilmu linguistik yang
berusaha menelaah perihal makna bahasa salah satunya ialah Pragmatik. Selain
Ilmu linguistik, Disiplin dari ilmu Filsafat, yakni Filsafat bahasa juga
menelaah perihal yang sama. Akan tetapi, kedua disiplin tersebut memiliki
perbedaan masing masing dalam analisisnya. Kedua disiplin tersebut jika saling
dikaitkan akan mampum menjelaskan apa yang telah tertulis pada judul artikel
ini.
![]() |
| arrahim.id |
Di Indonesia terdapat banyak sekali
kepercayaan dan agama tapi hanya ada lima agama yang diakui secarah sah oleh negara
yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Masalah agama sering menjadi
persoalan tersendiri, misalnya ungkapan ‘Islam Nusantara’ yang sering diperdebatkan.
Selain itu, hal yang paling populer dan masih dibahas sampai sekarang ialah
kafir dan tersesat. Penganut agama A mengatakan ‘Kalian kafir’ dan penganut
agama B mengatakan ‘kalian tersesat atau menyesatkan diri. Masing-masing tidak
terima dengan pernyataan tersebut.
Hal tersebut
merupakan fenomena yang sangat aneh, karena sudah jelas setiap agama atau kepercayaan memiliki sistem kepercayaan
masing-masing dan setiap agama mengklaim sebagai agama yang paling baik bahkan
satu-satunya agama utusan Tuhan yang Maha Esa untuk manusia, yang artinya agama
atau kepercayaan lain yang tidak sepaham (dalam konteks agama atau kepercayaan)
merupakan kepercayaan yang salah. Hal tersebut berbeda jika pembicaraan diluar
konteks agama, misalnya dalam konteks nasionalisme semua orang merupakan suci
dan ada dalam jalan yang benar.
Dua kutipan
- “Kamu orang yang memiliki kepecayaan yang berbeda dariku merupakan orang menyesatkan diri menurutku dalam konteks kepercayaan dan aku orang yang orang yang menyesatkan diri dalam konteks agama menurutmu. Kita adalah mahluk Tuhan yang sempurna dan istimewa dalam konteks sosial.”
- “makna
tidak berbanding lurus dengan arti dan makna terbentuk dari dua arah,
pembicara dan pendengar”

