Kita Semua Kafir dan Tersesat #paradigmamakna

  



Bahasa merupakan alat ekspresi yang sanggat penting untuk menyampaikan segala sesuatu baik kepada Tuhan maupun terhadap mahluk lainnya. Maka dari itu, manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk yang beragama dan bertuhan tidak mungkin melepaskan diri dari bahasa. Akan tetapi, bahasa sebagai alat komunikasi seakan disepelekan dan seakan sebuah alat atau barang tinggal pakai. Dalam bahasa ada banyak sekali elemen atau hal yang perlu perhatikan dan dianalisis terutama bahasa kedua. Salah satu elemennya ialah makna bahasa. Bahasa disefinisiskan sebagai lambang bunyi yang mengandung makan. Misalnya pada kata “tahu” [ta-hu]  dan “tahu” [tau] dalam bahasa Indonesia.

 YouTubekuDeiksis

Bahasa pertama dan bahasa kedua dalam penggunaannya sangatlah berbeda dimana makna bahasa pertama sudah tertanam dalam setiap individu melalui pengalamannya selama mengunakan bahasa pertamanya tersebut meskipun ia tidak bisa menjelaskan secara teoritis akan makna, pelafalan, hakikat, dan hal lainnya dalam setiap bunyi, kata, frasa, dan kalimat yang ada. Hal tersebut terbalik dengan bahasa kedua karena perlu ada  upaya yang lebih untuk menggunakan dan memahaminya.

 Bahasa Indonesia merupakan bahasa Kedua untuk sebagaian besar masyarakat Indonesia dan mungkin saja sebagai bahasa ke tiga untuk beberapa orang. Maka dari itu, dalam penggunaannya diperlukan usaha yang lebih, baik pelafalannya dan  penentuan diksi yang akan dipakai maupun memahami hakikat maknanya. Sejauh ini banyak sekali fenomena kebahasaan yang berkaitan dengan hakikat makna dan penerapannya dalam sosial yang masih belum sesuai. Misalanya ungkapan dalam rana tertentu yang tidak bisa diterima dan mejadi hal tabu.

Ada banyak sekali disiplin  ilmu linguistik yang berusaha menelaah perihal makna bahasa salah satunya ialah Pragmatik. Selain Ilmu linguistik, Disiplin dari ilmu Filsafat, yakni Filsafat bahasa juga menelaah perihal yang sama. Akan tetapi, kedua disiplin tersebut memiliki perbedaan masing masing dalam analisisnya. Kedua disiplin tersebut jika saling dikaitkan akan mampum menjelaskan apa yang telah tertulis pada judul artikel ini.

 

arrahim.id

 Di Indonesia terdapat banyak sekali kepercayaan dan agama tapi hanya ada lima agama yang diakui secarah sah oleh negara yakni Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu. Masalah agama sering menjadi persoalan tersendiri, misalnya ungkapan ‘Islam Nusantara’ yang sering diperdebatkan. Selain itu, hal yang paling populer dan masih dibahas sampai sekarang ialah kafir dan tersesat. Penganut agama A mengatakan ‘Kalian kafir’ dan penganut agama B mengatakan ‘kalian tersesat atau menyesatkan diri. Masing-masing tidak terima dengan pernyataan tersebut.

Hal tersebut merupakan fenomena yang sangat aneh, karena sudah jelas setiap agama  atau kepercayaan memiliki sistem kepercayaan masing-masing dan setiap agama mengklaim sebagai agama yang paling baik bahkan satu-satunya agama utusan Tuhan yang Maha Esa untuk manusia, yang artinya agama atau kepercayaan lain yang tidak sepaham (dalam konteks agama atau kepercayaan) merupakan kepercayaan yang salah. Hal tersebut berbeda jika pembicaraan diluar konteks agama, misalnya dalam konteks nasionalisme semua orang merupakan suci dan ada dalam jalan yang benar.

 

Dua kutipan

  1. “Kamu orang yang memiliki kepecayaan yang berbeda dariku merupakan orang menyesatkan diri menurutku dalam konteks kepercayaan dan aku orang yang orang yang menyesatkan diri dalam konteks agama menurutmu. Kita adalah mahluk Tuhan yang sempurna dan istimewa dalam konteks sosial.”
  1. “makna tidak berbanding lurus dengan arti dan makna terbentuk dari dua arah, pembicara dan pendengar”

 YouTubekuDeiksis