DILEMA PETANI BAWANG DI KAB. BIMA (sebuah opini)

he'e Bawa (gali bawang)


Kota Bima berada di timur pulau Sumbawa, kota Bima  dijuluki sebagai kota tepian air.  Pemukiman masyarakat Bima selain berada di tepian air juga tinggal di dataran tinggi yakni di perbukitan dan penggunungan. Sebagian besar penghasilan masyarakat Kota Bima ialah bertani dan berlaut. Salah satu komoditi yang paling populer di Kabupaten Bima ialah Bawang Merah. Akan tetapi, banyak dilema yang harus dihadapi oleh petani di Kabupaten Bima. Bawang sebagai tanaman yang diprioritaskan di beberapa tempat bukanlah pilihan yang mudah untuk dijalankan. Bawang Merah bukanlah tanaman yang mudah untuk dibudidayakan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan yakni mulai dari hal yang aktual maupun yang abstrak. Beberapa petani bawang percaya akan mistis, misalnya asal bibit bawang harus jelas dari mana, misalnya siapa dia dan dari mana dia mendapatkan bawang tersebut karena jika dibeli dari pencuri dipercayai bawang tersebut tidak akan berkah. Selain itu, petani bawang harus benar-benar menjaga diri dari hal-hal tabu, selain hal tabu, modal serta obat-obatan harus diperhatikan juga.

Selain hal yang abstrak hal kongkrit juga harus dihadapi oleh petani bawang ialah hama. Hama tanaman bawang dari waktu ke waktu pasti berbeda. Hama bawang pada musim dan waktu tertentu terkadang banyak dan terkadang tidak ada. Artinya masalah hama tidak bisa diprediksi.
“kanggihi bawa, kanae mpoa sabapa mboto-mboto raho ta ruma ain toi wara ipi musuh edepa, alomu musuh ta bawa ke tiloata kira-kirasi, Ari”  terjemahan “bertani bawang, banyak-banyak sabar dan banyak berdoa kepada tuhan agar hama tidak terlalu mewaba karena hama bawang tidak bisa dikira-kira, Dek”

Begitulah pernyataan dari salah satu petani yang kami wawancarai di Desa Monta pada Sabtu, 05/09/2020 lalu. Selain itu masalah hama, yang menghawatirkan petani Bawang Merah ialah harga, yakni harga obat-obatan dan harga bawang pascapanen. Harga obat-obatan dari waktu ke waktu terus naik sementara harga bawang sendiri tidak lah menentu. Harga bawang cenderung cepat atau lebih banyak turun daripada naik. Misalnya pada hari ini harga bawang berada pada 2 juta dan pada keesokan harinya bisa jadi turun ke 1,5 juta tau lebih buruk dari pada itu. Hal  ini menimbulkan kesedihan yang amat dalam bagi para petani bawang.
“nuntus mantiri kanggihi bawake mbotopu kanggihi wea dou ma landa lo’i” terjemahan “kalau dibicarakan, bertani bawang sebagian besar hanya bertani untuk penjual obat-obatan bawang” ujar salah satu petani saat kami wawancarai. Artinya terkadang hasil tani bawang hanya cukup untuk menutupi biaya perawatan bawang dan terkadang tidak cukup apabilah harga turun dikisaran 1 jutaan.

Dalam memulai terutama bagi petani pemula harus benar-benar menyiapkan diri baik dari segi finansial, fisik, maupun mental.  Bertani bawang tidaklah mudah dan tidaklah murah tergantung berapa banyak yang ditanam. Beberapa petani terkadang menghabiskan dana sekitar satu juta per sekali semprot, sementara umur bawang ialah sekitar dua bulan, penyemprotan dilakukan setiap hari atau selang satu atau dua hari tergantung kondisi bawang dan perkembangan hama di tanaman bawang. Dengan demikian finansial sanggat diperlukan bagi petani pemula agar tidak berhutang sana sini.

Seorang petani bawang harus memiliki fisik dan mental yang kuat karena petani bawang harus selalu memperhatikan bawangnya setiap hari agar mengetahui pergerakan bawang dan hama. Persiapan mental sanggat dibutuhkan karena petani bawang tidak jauh dari kata rugi dan seri, artinya tidak untung dan tidak rugi. Akan tetapi masal rugi dan benar-benar rugi tidak terlalu banya yang alami. Ada beberapa kasus kerugian yang dialami oleh petani sehingga mengambil tindakan mengakhiri hidupnya sendiri. Kasus yang lebih banya ialah mengistrahatkan diri dari bertani akibat beberapa kali tidak mendapatkan untung dari bertani.

Faktor utama  dilema para petani  ialah permainan pasar yang sangat merugikan petani. Salah satu hal yang paling sering terjadi hingga saat ini ialah harga bawang yang turun drastis dalam kurun waktu yang begitu cepat, yakni hitungan hari bahkan hitungan  jam dibandingkan dengan naiknya harga yang bisa berubah dalam kurun waktu bulanan. Dalam penelusuran kami ada beberapa  hal yang membuat harga bawang  turun drastis, yakni permainan pedagang kecil atau pengepul yang biasa disebut “dou daga”. Hal yang pertama ialah banyaknya pengepul dan banyaknya oper-operan dari tangan pengepul ke pengepul (tanggan pedagang) selanjutnya hingga masuk ke pasar atau penampungan bawang (gudang). Hal lainnya ialah kebutuhan pasar lokal di pulau sumbawa yang tidak terlalu atau tidak sesuai dengan jumlah bawang yang ada. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya pabrik atau perusahaan yang membutuhkan bawang dalam jumlah yang banyak sehingga jalan satu-satunya untuk menjual bawang ialah di luar pulau Sumbawa. Jumlah gudang penampung bawang untuk dijual ke pabrik tidak banyak dan tidak ada yang besar seperti di kota-kota besar.